Kalau kamu baru mulai tertarik bikin NAS sendiri di rumah, kemungkinan besar kamu sudah lihat video-video YouTube atau post Reddit yang memamerkan setup Synology dengan 8 bay drive, QNAP dengan RAM 32GB, atau homelab server rack yang lampunya kerlap-kerlip keren.
Dan mungkin reaksi pertamamu adalah: “Wah, kayaknya butuh modal gede nih.”
Saya mau cerita bahwa itu tidak harus begitu.
NAS Itu Sebenarnya Apa? #
Sebelum jauh, mari luruskan dulu definisinya.
NAS = Network Attached Storage. Literally: storage yang bisa diakses lewat jaringan. Itu saja. Tidak ada syarat harus pakai merek tertentu, tidak ada aturan harus punya berapa bay drive, tidak ada kewajiban install aplikasi dengan dashboard yang mewah.
Selama ada komputer yang nyala, ada storage yang terpasang, dan bisa diakses dari device lain lewat jaringan rumah, itu sudah NAS. Titik.
Hardware Saya: Mulai dari Apa yang Ada #
Era Pertama: Laptop Bekas N4000 #
Semuanya dimulai dari laptop bekas dengan prosesor Intel Celeron N4000, RAM onboard 4GB, dan HDD 500GB. Laptop ini sudah lama nganggur, tidak tahu mau diapain.
Daripada berdebu, saya install Debian Server dan jadikan dia Docker host. Spesifikasi yang menurut banyak orang “tidak layak” untuk server, tapi kenyataannya? Idle consumption-nya cuma sekitar 5 watt. Itu lebih hemat dari lampu tidur.
Sekarang: Tambah Node i3 6100T #
Seiring waktu, nabung dan tambah device. Saya tambah satu unit lagi: Intel Core i3-6100T, RAM 8GB, SSD 120GB. Idle-nya sekitar 15 watt.
Kedua mesin ini sekarang diinstall Proxmox dan jalan bersamaan. Bukan cluster fancy, bukan high-availability setup, tapi cukup untuk kebutuhan saya sehari-hari.
Software Stack: Samba + Syncthing, Kenapa Cukup? #
Setelah panjang perjalanan coba-coba, setup saya sekarang cuma dua tools utama untuk urusan storage dan sync:
Samba: File Sharing via LAN #

Samba adalah protokol yang sudah ada sejak zaman dinosaurus (relatif), dan itu justru kelebihannya. Battle-tested, ringan, zero drama. Dari Windows tinggal buka File Explorer, ketik alamat IP server, dan langsung akses semua file. Dari Linux juga bisa. Dari macOS juga bisa.
Tidak ada aplikasi tambahan yang perlu diinstall di device klien. Tidak ada update yang tiba-tiba merusak sesuatu. Tidak ribet setting multi akun dan permission shared folder.
Syncthing: Sync Antar Device #

Syncthing menghandle sinkronisasi file antar device secara peer-to-peer. Foto dari HP langsung sync ke server, file kerja dari laptop langsung tersedia di semua device. Tidak ada data yang lewat server orang lain, tidak ada biaya langganan cloud.
Yang Pernah Saya Coba (dan Tidak Cocok) #
Jujur, saya tidak langsung sampai di setup ini. Waktu masih pakai Debian dengan Docker, saya sempat nyoba Nextcloud, Seafile, dan Owncloud satu per satu.
Hasilnya? Ribet. Install-nya tidak semudah yang ditulis di dokumentasi, konfigurasinya panjang, dan ujung-ujungnya saya dapat software yang bloated untuk kebutuhan saya yang sebenarnya sederhana. Nextcloud misalnya, untuk akses file dari HP saya harus install aplikasinya dulu. Ukurannya tidak kecil, dan fitur 90%-nya tidak akan pernah saya pakai.
Waktu itu saya juga sempat lihat ada Proxmox Community Script yang katanya bisa bantu install Nextcloud dan sejenisnya dengan lebih mudah. Tapi saya sudah terlanjur capek, dan ujung-ujungnya saya sadar bahwa masalahnya bukan di cara install-nya, tapi di software-nya sendiri yang memang tidak cocok dengan workflow saya.
Bukan berarti software-software itu jelek. Mereka punya market-nya sendiri, orang yang butuh kolaborasi tim, kalender sharing, atau fitur office online. Tapi untuk saya? Overkill.
Akses Remote: Cloudflared Zero Tust + Netbird #
Setup di atas sempurna untuk akses lokal. Tapi bagaimana kalau saya sedang di luar rumah?
Di sinilah saya pakai dua VPN zero trust: Cloudflared Zero Tust dan Netbird.
Cloudflared Zero Tust saya pakai karena saya memang sudah pakai cloudflared untuk tunneling beberapa service. Jadi, sekalian saja manfaatkan yang sudah ada.
Netbird masuk karena ada kendala yang cukup menyebalkan: ISP saya pakai CGNAT, dan IP saya sepertinya sudah diblokir, kemungkinan dianggap spam atau bot. Akibatnya Wireguard dan Tailscale tidak bisa jalan normal. Netbird jadi solusi yang works di kondisi ini.
Hasilnya? Samba dan semua service di homelab tetap bisa diakses dari mana saja, kapan saja, tanpa harus pulang dulu.
Ini yang Belum Sempurna #
Saya tidak mau artikel ini terkesan seperti flexing setup sempurna. Ada beberapa keterbatasan yang perlu saya akui:
Storage tanpa RAID. Karena keterbatasan hardware, saya belum setup RAID. Drive di-mount langsung, artinya kalau HDD mati, data ikut pergi. Wassalam. Saat ini saya andalkan Syncthing sebagai “backup” ke device lain untuk data penting saja, tapi itu bukan pengganti RAID yang proper. Kalau kamu punya lebih dari satu drive, setup RAID dari awal adalah keputusan yang jauh lebih bijak.
Samba tidak punya Web GUI. Akses file hanya lewat File Explorer atau mount point, tidak ada tampilan web yang bisa dibuka dari browser. Kalau kamu butuh GUI yang cantik untuk manajemen file, Samba bukan jawabannya. Mungkin kamu perlu lihat Filebrowser atau tools sejenis.
Tapi untuk kebutuhan saya sekarang? Dua keterbatasan ini acceptable. Dan itu intinya, keterbatasan hanya jadi masalah kalau memang jadi masalah buat kamu.
Workflow Dulu, Bukan Ikut-ikutan #
Ini bagian yang paling ingin saya sampaikan.
Komunitas homelab, terutama di YouTube dan Reddit, bisa sangat intimidatif. Orang pamer setup yang semakin kompleks, semakin banyak service yang jalan, semakin besar rack-nya. Dan tanpa sadar, kamu merasa setup kamu “kurang” kalau tidak pakai stack yang sama.
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang kamu butuhkan?
Kalau kamu cuma mau akses file dari mana saja di rumah dan sync foto dari HP, Samba + Syncthing sudah lebih dari cukup. Kalau kamu mau belajar Docker dan self-hosting, laptop bekas dengan Debian sudah bisa jalan. Kalau kamu mau eksplor virtualisasi, Proxmox bisa install di hardware yang banyak orang buang.
Hardware “kentang” bukan hambatan. Hardware kentang yang dipakai dengan bijak, disesuaikan dengan kebutuhan nyata, bisa punya fungsionalitas yang tinggi dengan konsumsi daya yang rendah dan biaya maintenance yang kecil.
Mulai dari Apa yang Kamu Punya #
Kalau kamu sedang mikir mau bikin NAS tapi takut modalnya besar, jangan tunggu. Laptop lama yang nganggur, mini PC bekas, bahkan Raspberry Pi sudah bisa jadi titik awal yang solid.
Install sistem operasi ringan, pilih satu atau dua software yang sesuai workflow kamu, dan mulai dari sana. Tidak perlu langsung sempurna. Setup akan berkembang organik sesuai kebutuhan yang muncul, persis seperti yang terjadi pada saya.
Yang penting: pilih tools yang kamu paham, bukan tools yang paling sering di-endorse orang.
Karena pada akhirnya, NAS terbaik adalah NAS yang jalan dan kamu mengerti cara kerjanya, bukan yang paling mahal atau paling banyak fiturnya.
Kalau kamu punya pertanyaan soal setup ini atau mau diskusi lebih lanjut, feel free komen di bawah. Saya bukan expert, tapi senang sharing pengalaman.