Lewati ke konten utama
  1. Posts/

Dari Blogger ke Hugo: Sebuah Cerita Migrasi Saya

·829 kata·4 menit
Noor Khafidzin
Penulis
Noor Khafidzin
Daftar isi

Saya pertama kali menulis di Blogger pada 2014, saat masih SMP. Perjalanan mengulik Blogger dimuulai ketika saya ikut lomba blog, dan alhamdulillah berhasil juara 2, masuk koran pula 🤣

Namun, setelah hampir satu dekade menggunakan Blogger (walau gak konsisten bikin artikel), saya mulai merasa Blogger gitu-gitu aja, edit tema juga syntax-nya ribet, mana cuma 1 halaman xml buat editnya. Tapi ada juga yang bikin gampang, editor layout element (tata letak), ya walaupun masih bergantung pada tema sih.


Markdown, Alasan Kecil Tapi Penting

Belakangan ini saya mulai migrasi catatan ke Obsidian, yang semua catatannya menggunakan Markdown (MD). Ternyata, menulis di Markdown terasa lebih nyaman dibanding nulis HTML di editor Blogger. Ringkas, cepat, dan tidak perlu ribet buka tag <div> atau <span> berulang-ulang.

Nah, Hugo menggunakan Markdown sebagai format konten utamanya. Jadi, menulis artikel langsung bisa sinkron dengan catatan yang sudah saya punya di Obsidian. Contohnya, artikel bisa ditulis seperti ini:

---
title: "Cara Migrasi Blog dari Blogger ke Hugo"
date: 2025-12-27
tags: ["blogging", "hugo", "markdown"]
---

Ini adalah paragraf pertama artikel saya. Markdown membuatnya mudah menulis **bold**, _italic_, atau daftar:

- Point pertama
- Point kedua

Menyenangkan rasanya bisa menggunakan format yang sama untuk catatan pribadi dan publikasi blog.


Fleksibilitas dan Kontrol Penuh

Salah satu hal yang paling terasa setelah pindah dari Blogger ke Hugo adalah rasa “punya kendali penuh” atas blog sendiri.

Di Blogger, semua tema disatukan dalam satu file XML raksasa. Kalau mau ubah satu bagian kecil saja, misalnya header atau footer, sering kali harus scroll ratusan baris dan berharap tidak salah edit. Belum lagi keterbatasan lain: kita tidak bisa upload file sembarangan ke root folder. Mau taruh file seperti ads.txt, robots.txt custom, atau file verifikasi tertentu? Banyak yang harus diakali, bahkan kadang tidak bisa sama sekali.

Di Hugo, semua terasa lebih “masuk akal”.

Memecah Template Jadi Modul Kecil

Di Hugo, layout bisa dipecah jadi banyak file kecil yang disebut partial.

Contohnya:

layouts/
 └─ partials/
     ├─ header.html
     ├─ footer.html
     └─ related.html

Lalu di template utama kita cukup panggil:

{{ partial "header.html" . }}
{{ partial "related.html" . }}
{{ partial "footer.html" . }}

Kalau mau ubah footer? Tinggal edit footer.html.
Di kebanyakan tema sudah lebih gampang buat edit-edit, biasanya tinggal edit file hugo.toml untuk konfigurasi bawaan hugo/tema.


Selain partial, ada juga shortcode. Ini sangat membantu saat ingin menambahkan komponen khusus di artikel, tanpa harus menulis HTML panjang setiap kali.

Misalnya saya buat file:

layouts/shortcodes/notice.html

Isinya:

<div class="notice">
  {{ .Inner }}
</div>

Lalu di artikel Markdown saya cukup tulis:

{{< notice >}}
Ini adalah catatan penting untuk pembaca.
{{< /notice >}}

Bandingkan dengan Blogger, yang sering mengharuskan saya menulis <div class="notice">...</div> berulang-ulang di editor HTML. Di Hugo, saya cukup pakai satu baris shortcode, jauh lebih bersih dan konsisten.


Akses Penuh ke Struktur Situs

Di Hugo, saya bebas:

  • Mengedit robots.txt

  • Menambahkan file di root seperti ads.txt, sitemap.xml, file verifikasi domain, dan lain-lain

  • Mengatur struktur URL sendiri

  • Membuat folder khusus untuk konten tertentu (misalnya homelab/, landing/, dsb)

Hal-hal seperti ini terasa “mustahil” atau sangat ribet di Blogger.


Tentunya Gratis dan Sangat Kencang

Hal lain yang membuat saya mantap dengan Hugo adalah:
gratis, cepat, dan murah (bahkan bisa nol rupiah).

Gratis, Open Source, dan Banyak Tema

Hugo itu open source dan 100% gratis. Temanya juga banyak, tinggal pilih lalu modifikasi sesuai kebutuhan. Tidak ada biaya langganan, tidak ada batasan fitur karena “paket premium”.


Loading Super Cepat

Karena Hugo menghasilkan static site, semua halaman sudah dalam bentuk HTML siap saji. Tidak ada query database, tidak ada proses berat di server.

Hasilnya?

  • Waktu buka halaman jauh lebih cepat.

  • Lebih ramah SEO.

  • Lebih nyaman dibaca, apalagi di koneksi lambat.


Unlimited Storage di GitHub + Hosting Gratis

Semua file Hugo saya simpan di GitHub. Artinya:

  • Repositori GitHub sebagai “penyimpanan konten”

  • Bisa dianggap unlimited storage untuk artikel, gambar, dan aset blog

Untuk hosting, saya tidak perlu server berbayar. Cukup pakai:

  • GitHub Pages

  • Cloudflare Pages

  • Netlify, Vercel, dan sejenisnya

Semua itu gratis untuk kebutuhan blog personal.
Dulu saya pakai Blogger karena gratis, sekarang saya pakai Hugo… juga tetap gratis, tapi dengan kontrol penuh dan performa yang jauh lebih baik.


Kekurangan Hugo dan Solusi Praktis

Tidak ada WYSIWYG di Hugo, jadi tidak semudah Blogger untuk “lihat langsung hasil tulisan”. Organisasi konten juga bisa terasa ribet. Untungnya, saya menemukan plugin Front Matter CMS di VSCode, yang memudahkan membuat dan memanajemen konten Markdown. Sekarang saya bisa membuat file baru, isi metadata seperti tanggal, judul, dan tag, lalu Hugo yang mengurus sisanya.

Front Matter CMS

Dengan ini, workflow menulis menjadi lebih terstruktur dan rapi, meski tanpa GUI seperti Blogger.


Cerita Lama vs Masa Depan

Blogger sudah menemani saya sejak remaja. Ada kenangan manis, lomba, masuk koran, dan belajar nulis HTML. Tapi perkembangan Blogger terasa lambat dibanding produk Google lainnya. Sementara Hugo memberi kesempatan belajar hal baru: Markdown, partial, shortcode, workflow developer, dan kontrol penuh terhadap situs.

Migrasi ini bukan berarti meninggalkan kenangan lama. Sebaliknya, ini langkah untuk meningkatkan produktivitas, fleksibilitas, dan cara menulis saya agar lebih modern. Masih ada kurva belajar yang curam, tapi tantangan itu justru membuat prosesnya menarik.



Load Comments