Lewati ke konten utama
  1. Posts/

Metode Pembelajaran: Metode Small Group Discussion (SGD)

··1352 kata·7 menit·
Noor Khafidzin
Penulis
Noor Khafidzin
Seorang homelab enthusiast yang terobsesi pada efisiensi sistem dan seni pemecahan masalah (troubleshooting).
Daftar isi

Pengertian
#

Metode pembelajaran SGD adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Metode SGD dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang jumlah anggotanya antara empat sampai enam orang dalam satu kelompok yang bekerja secara mandiri dari guru (Slavin, 2011). SGD merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan mengelompokkan siswa dalam kelompok kecil untuk bekerja sama dalam kegiatan diskusi. Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip dalam mengajarkan keterampilan abad ke-21, yaitu untuk menggalakkan kerja sama kelompok (Saavedra & Opfer, 2012).

Metode
#

Penerapan metode diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi seluruh mahasiswa di dalam kelas menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 hingga 5 orang. Penentuan anggota kelompok dipilih secara acak. Dosen menyajikan masalah untuk setiap kelompok dan setiap kelompok akan mencoba memecahkan masalah tersebut. Pada akhir diskusi, setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya, dilanjutkan dengan penyimpulan bersama dosen. Setelah kesimpulan disampaikan, mahasiswa dan dosen melakukan refleksi atas kegiatan diskusi yang telah dilakukan. Kegiatan refleksi dapat berupa penilaian terhadap proses jalannya diskusi. Dosen dapat menggunakan respons siswa sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan mereka dalam belajar lebih mendalam dan memperkenalkan konsep-konsep baru yang relevan serta menantang pemikiran mereka (Bolstad, 2011).

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Peneliti terlibat secara langsung dalam proses penelitian bersama kolaborator. Prosedur penelitian difokuskan pada pemberian tindakan sebagai solusi dari suatu permasalahan. Pemberian tindakan dilakukan dengan menganalisis keadaan dan melihat kesenjangan antara kondisi yang diinginkan dengan kenyataan di lapangan, kemudian merumuskan rencana pelaksanaan tindakan. Setelah itu, peneliti terlibat secara penuh dalam melaksanakan rencana tindakan, melakukan observasi, menganalisis data yang diperoleh, dan melaporkan hasil penelitian. Tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah penerapan metode Small Group Discussion (SGD) berbasis peer assessment. Desain penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam serangkaian langkah berbentuk spiral di mana penelitian dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdapat empat langkah penelitian, yaitu planning, acting, observing, dan reflecting.

Tahapan-Tahapan
#

Ada tahapan-tahapan dalam melakukan diskusi. Terdapat 7 langkah mulai dari fokus kasus hingga pemecahan masalah yang biasa disebut Seven Jump Steps.

7 Jump Steps

Ciri-Ciri
#

Ciri-ciri Small Group Discussion (SGD) menurut Ismail dalam Dadahri (2012) antara lain adanya kerja sama antara sesama anggota kelompok, keterampilan berbagi dalam kelompok, serta adanya peran aktif atau keterampilan partisipasi dari masing-masing anggota kelompok.

Dasar Model Small Group Discussion
#

1. Dasar Yuridis

Dasar yuridis berkaitan dengan masalah pendidikan dan pembelajaran. Hal tersebut tercermin dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Pasal 1 yang menyebutkan bahwa jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

2. Dasar Psikologis

Dasar psikologis tercermin pada kehidupan sehari-hari manusia. Kegiatan tersebut dapat digolongkan ke dalam tiga golongan utama secara hakiki, yaitu:

  • Kegiatan yang bersifat individual
  • Kegiatan yang bersifat sosial
  • Kegiatan yang bersifat ketuhanan

3. Dasar Religius

Asas kooperatif juga memiliki landasan agama yang termaktub dalam Q.S. Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi:

“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS. Al-Maidah: 2)

Dalam hadis juga dijelaskan tentang pentingnya saling menolong, sebagaimana Hadis Anas bin Malik: “Dari Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: ‘Tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi.’ Dikatakan, bagaimana jika menolong yang zalim? Rasulullah menjawab: ‘Tahanlah (hentikan) dia dan kembalikan dari kezalimannya, karena sesungguhnya itu merupakan pertolongan baginya.’” (HR. Muslim)

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa prinsip kerja sama dan saling membantu dalam kebaikan sangat dianjurkan oleh agama Islam. Dengan demikian, dasar model small group discussion adalah pentingnya menciptakan kerja sama dalam proses belajar mengajar.

Prinsip-Prinsip Model Small Group Discussion
#

Secara umum, prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam strategi pembelajaran aktif adalah sebagai berikut:

  1. Hal apapun yang dipelajari oleh murid, ia harus mempelajarinya sendiri; tidak ada seorang pun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya.
  2. Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatan) sendiri, dan pada setiap kelompok umur terdapat variasi dalam kecepatan belajar.
  3. Seorang murid belajar lebih banyak apabila setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih bermakna.
  4. Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri materi pelajaran, maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar serta akan belajar dan mengingat secara lebih baik.

Model small group discussion pada dasarnya menuntut adanya partisipasi aktif dari peserta didik dalam proses pembelajaran. Ada beberapa prinsip belajar dalam model SGD yang dapat menunjang tumbuhnya cara siswa belajar aktif, yaitu:

1. Stimulasi Belajar

Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya berbentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berupa verbal/bahasa, visual, auditif, taktil, dan lain-lain. Ada dua cara yang dapat membantu siswa agar pesan mudah diterima. Cara pertama adalah dengan pengulangan sehingga membantu siswa memperkuat pemahamannya. Cara kedua adalah siswa menyebutkan kembali pesan yang disampaikan guru.

2. Perhatian dan Motivasi

Perhatian dan motivasi merupakan prasyarat utama dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, serta menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, dan diagram. Motivasi belajar sendiri dapat tumbuh dari dalam diri siswa maupun dari faktor luar.

3. Respons yang Dipelajari

Keterlibatan atau respons siswa terhadap stimulus guru dapat meliputi berbagai bentuk, seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, dan tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas yang diberikan guru, menilai kemampuan diri dalam menguasai informasi, serta melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan.

4. Penguatan

Sumber penguatan belajar untuk pemuasan kebutuhan dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri siswa. Penguatan dari luar dapat berupa nilai, pengakuan prestasi, persetujuan pendapat, ganjaran, hadiah, dan sejenisnya. Sementara penguatan dari dalam diri siswa dapat terjadi apabila respons yang dilakukan betul-betul memuaskan dan sesuai dengan kebutuhannya.

5. Pemakaian dan Pemindahan

Belajar dengan memperluas pembentukan asosiasi dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memindahkan apa yang sudah dipelajari pada situasi lain yang serupa di masa mendatang. Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang bermakna, berorientasi pada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, pemberian contoh yang jelas, latihan yang teratur, pemecahan masalah serupa, serta pelaksanaan dalam situasi yang menyenangkan.

Kelebihan
#

Penerapan metode Small Group Discussion berbasis peer assessment dapat meningkatkan keterampilan komunikasi lisan mahasiswa calon guru sekolah dasar. Hal ini disebabkan metode SGD berbasis peer assessment memiliki kelebihan terutama dalam peningkatan keterampilan komunikasi lisan mahasiswa, khususnya dalam kemampuan berkomunikasi saat diskusi, mempresentasikan hasil diskusi, menjelaskan dan merepresentasikan materi, serta membangun hubungan baik dengan anggota kelompok. Melalui kegiatan diskusi kelompok kecil yang mengintegrasikan proses peer assessment, mahasiswa dituntut untuk berpikir dan bertindak secara maksimal.

Kekurangan
#

Kekurangan dari SGD sering muncul akibat masalah individual. Kepasifan salah satu atau beberapa anggota karena terlalu bergantung pada anggota lain adalah salah satu permasalahan yang umum ditemui dalam SGD. Hal ini terjadi karena sebagian mahasiswa lebih aktif dan agresif dalam berpartisipasi, sehingga mahasiswa lain hanya mengikuti tanpa kontribusi yang berarti (Edmunds & Brown, 2013). Contoh nyata dari hal ini adalah saat pengerjaan tugas kelompok. Konflik pribadi antara anggota SGD juga merupakan hal yang sulit dihindari karena perbedaan karakter setiap individu. Masalah lainnya adalah penggunaan waktu SGD yang disalahgunakan untuk kegiatan di luar pembelajaran, terutama ketika fasilitator tidak hadir dalam diskusi (Gunn, 2007). Kekurangan dalam SGD dapat diminimalkan apabila ada kerja sama dan kesadaran diri dari setiap anggota kelompok.

Contoh Penerapan
#

  • Small Group Discussion berbasis peer assessment: meningkatkan keterampilan komunikasi lisan calon guru sekolah dasar.
  • Model Small Group Discussion dan Hasil Belajar IPS.

Referensi
#

Bolstad, R. (2011). Supporting future-oriented learning and teaching: A New Zealand perspective. New Zealand Council for Educational Research.

Dadahri, W. (2012). Implementasi strategi pembelajaran small group discussion pada mata pelajaran IPS kelas IV MI Al Falah Jatirokeh Songgom Brebes (Skripsi S1). Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang.

Edmunds, S., & Brown, G. (2013). Effective small group learning (AMEE Guide No. 48). Association for Medical Education in Europe (AMEE). https://www.amee.org/getattachment/AMEE-Initiatives/ESME-Courses/AMEE-ESME-Face-to-Face-Courses/ESME/ESME-Online-Resources-China-Dec-2015/Effective-small-group-learning-Guide-No-48.pdf

Gunn, V. (2007). Approaches to small group learning and teaching. University of Glasgow. http://www.gla.ac.uk/media/media_12157_en.pdf

Saavedra, A. R., & Opfer, V. D. (2012). Teaching and learning 21st-century skills: Lessons from the learning sciences. RAND Corporation.

Silberman, M. L. (2009). Active learning: 101 cara belajar siswa aktif. Nusamedia.

Slavin, R. E. (2011). Psikologi pendidikan: Teori dan praktik (Edisi ke-9). PT Indeks.

Terkait


Muat Komentar